Kamis, 05 Februari 2009

Keramik kinclong seperti baru

Sebagai ibu rumah tangga, aktifitas membersihkan rumah adalah kudu hukumnya. Habis siapa lagi yang mo diandelin. Pembantu? Boleh saja kalo ada. Tapi, kalo ga ada pembantu, apa mau kita biarkan rumah kita kotor? Wah...nggak enak dong. Kalo aku sih, selama waktu and tenaga memungkinkan, bersih-bersih rumah bukanlah pekerjaan yang memberatkan. Malah sebaliknya. Aku cukup care dengan urusan yang satu ini. Koleksi perlengkapan bersih-bersihku pun cukup lengkap. Mulai dari aneka jenis lap, lap kain halus, kasar,lap kering, lap camois, spons, juga aneka cairan pembersih. Cairan pembersih untuk kayu, logam vinil,dan keramik.Tentu saja aneka jenis sikat, bahkan kuas untuk menyingkirkan debu pada permukaan yang memiliki banyak celah, seperti key board. (maklum ga punya vacum).Dengan koleksi peralatan sebanyak itu, ternyata tidak serta merta selesai semua urusan bersih-bersih rumah. Dari pengalamanku,noda karat air pada keramik kamar mandi adalah jenis noda yang bandel untuk disingkirkan. Berbagai merek cairan pembersih yang kutemukan di toko, ternyata tidak mampu bekerja sebaik yang mereka promosikan. Alih-alih keramik bersih, malah nat keramik rusak karena terkorosi. Belum lagi gatal di tangan dan bau menyengat yang menyesakkan napas.
Pada suatu hari,(kayak dongeng nih) aku ngobrolin masalah ini sama tukang service kloset. Ternyata si bapak yang baik itu bersedia membagi ilmunya tentang cara membersihkan dan merawat kloset maupun keramik pada umumnya. Mau tau rahasianya? Berikut ini caranya :
  1. Basahi keramik yang akan dibersihkan.
  2. Gosok keramik dengan ampelas mobil sampai bersih.
  3. Bilas dengan air
  4. Bila noda masih tersisa, ulangi.
Simpel dan ekonomis kan?
Ampelas mobil adalah jenis ampelas yang bertekstur halus tapi tahan air dan kuat sehingga mampu menyingkirkan noda bandel tanpa menggores. Waah...ketika pertamakali mencoba,aku hampir ga percaya. Benar-benar puuaass. Selamat mencoba! And....good bye gatal dan bau.


Note: Ampelas mobil dapat dibeli di toko bahan bangunan

My Four Princesses Part.1

Hana And Cica
Empat orang putriku,
memberi warna yang berbeda-beda dalam perjalanan hidupku. Ketika si sulung pertama kali dapat ku rasakan denyut jantungnya, mereka telah membuatku bahagia sekaligus cemas. Bagaimana tidak? Setelah sekian tahun kehadiran mereka kudambakan, kuupayakan tak kenal lelah, tiba-tiba dokter mengatakan sulungku kembar...!!
Aku bukan tidak tahu, apa resiko mengandung bayi kembar. Namun, aku mencoba lebih menikmati rasa bahagia yang didamba oleh setiap wanita. Menjadi Seorang Ibu. Meski tak dapat kupungkiri debar jantungku, setiap kali tiba jadwal mengintip mereka dengan USG. Masih adakah kedua buah hatiku? Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah mereka masih tumbuh besar bersama-sama? Atau ada yang "kalah" salah satunya? Atau...
" Ya Allah, aku ingin kedua anakku tumbuh sehat, normal dan lahir dengan selamat." Demikianlah paling tidak doa yang senantiasa kupanjatkan.
Perasaan lega dan haru menyergapku malam itu. "Lihat Bu, mereka terpisah sempurna. Tidak siam".kata dokter sambil menunjuk gambar 2 benda di layar monitor. Alhamdulillah... satu kecemasan terlegakan sudah. Layaknya wanita hamil, di usia trimester pertama kandunganku, aku tak berselera makan. Tak hanya itu, meningkatnya HCG (
Human Chorionic Gonadotropin hormon) dalam darah, menyebabkan aku kehilangan semangat. Dari buku-buku yang kubaca, aku belajar menyikapi semua perubahan yang terjadi selama masa kehamilanku. Morning sick masih kualami hingga trimester 2. Nasi dan lauk-pauk, bukan saja tidak menarik seleraku, malah memancing isi perutku keluar semua bila kupaksakan. Satu-satunya protein hewani yang kusukai adalah udang rebus saus lemon. Minimnya makanan yang aku konsumsi, menyebabkan berat badanku maupun bayiku, kurang. Bahkan dokter memberi istilah lebih keras lagi, "Ibu kurang gizi!" Makan yang banyak dong Buu... jangan males. Namanya nggak sayang anak!"Duh...sedihnya. Tentu saja. Jangankan dokter, suamiku juga mungkin tak pernah tau betapa aku berjuang melahap segala bentuk makanan. Walaupun beberapa menit kemudian perutku akan menolaknya. Lalu kusimak nasihat dan pertanyaan-pertanyaan dokter berikutnya. "Kalau tidak suka susu formula, minum susu fullcream aja Bu, lebih enak dan tidak neg. Sudah pernah mencoba, Bu?" Sudah dok, tapi muntah juga. "Kalo es krim, bagaimana?"tanya dokter lagi. Es krim? Waah boleh dicoba tuh. "Es krim itu kan bahan dasarnya susu, kalo bisa setengah liter sehari". lanjut sang dokter. Sejak saat itu, es krim dan udang rebus, menjadi menu utamaku. Sampai suatu malam aku terbangun mendapati dasterku basah. Aku ngompol? Tapi tidak ada bau dan... Air ketuban! Ya, aku segera teringat ciri-ciri air ketuban yang pernah kubaca di sebuah buku panduan kehamilan. Malam itu tgl 30 september 1994, jam sebelas malam, suamiku mengantarku ke RS Mitra Keluarga Jatinegara. Sepanjang perjalanan, air ketubanku terus mengalir. Aku merasa baju hamilku menjadi lebih longgar. Oh...jangan-jangan bayiku saling mendesak dan menekan.
Dokter memutuskan operasi sesar setelah sholat subuh. Pertimbangan sesar, selain ketuban bocor, posisi bayi-bayiku ternyata malang melintang. Yang di bawah telentang dan yang lain posisi duduk di atasnya. Subhanallah...
Akhirnya, lahirlah si sulung kembarku dengan lancar. Keduanya perempuan dengan berat 2,3 kg dan 1,9 kg. Kembar ke-1 kami beri nama Alif Hasna Astrima dan kembar ke-2 Alif Nissa Astrima. Kemudian mereka lebih akrab dengan panggilan Hana dan Cica