Empat orang putriku, memberi warna yang berbeda-beda dalam perjalanan hidupku. Ketika si sulung pertama kali dapat ku rasakan denyut jantungnya, mereka telah membuatku bahagia sekaligus cemas. Bagaimana tidak? Setelah sekian tahun kehadiran mereka kudambakan, kuupayakan tak kenal lelah, tiba-tiba dokter mengatakan sulungku kembar...!!
Aku bukan tidak tahu, apa resiko mengandung bayi kembar. Namun, aku mencoba lebih menikmati rasa bahagia yang didamba oleh setiap wanita. Menjadi Seorang Ibu. Meski tak dapat kupungkiri debar jantungku, setiap kali tiba jadwal mengintip mereka dengan USG. Masih adakah kedua buah hatiku? Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah mereka masih tumbuh besar bersama-sama? Atau ada yang "kalah" salah satunya? Atau...
" Ya Allah, aku ingin kedua anakku tumbuh sehat, normal dan lahir dengan selamat." Demikianlah paling tidak doa yang senantiasa kupanjatkan.
Perasaan lega dan haru menyergapku malam itu. "Lihat Bu, mereka terpisah sempurna. Tidak siam".kata dokter sambil menunjuk gambar 2 benda di layar monitor. Alhamdulillah... satu kecemasan terlegakan sudah. Layaknya wanita hamil, di usia trimester pertama kandunganku, aku tak berselera makan. Tak hanya itu, meningkatnya HCG ( Human Chorionic Gonadotropin hormon) dalam darah, menyebabkan aku kehilangan semangat. Dari buku-buku yang kubaca, aku belajar menyikapi semua perubahan yang terjadi selama masa kehamilanku. Morning sick masih kualami hingga trimester 2. Nasi dan lauk-pauk, bukan saja tidak menarik seleraku, malah memancing isi perutku keluar semua bila kupaksakan. Satu-satunya protein hewani yang kusukai adalah udang rebus saus lemon. Minimnya makanan yang aku konsumsi, menyebabkan berat badanku maupun bayiku, kurang. Bahkan dokter memberi istilah lebih keras lagi, "Ibu kurang gizi!" Makan yang banyak dong Buu... jangan males. Namanya nggak sayang anak!"Duh...sedihnya. Tentu saja. Jangankan dokter, suamiku juga mungkin tak pernah tau betapa aku berjuang melahap segala bentuk makanan. Walaupun beberapa menit kemudian perutku akan menolaknya. Lalu kusimak nasihat dan pertanyaan-pertanyaan dokter berikutnya. "Kalau tidak suka susu formula, minum susu fullcream aja Bu, lebih enak dan tidak neg. Sudah pernah mencoba, Bu?" Sudah dok, tapi muntah juga. "Kalo es krim, bagaimana?"tanya dokter lagi. Es krim? Waah boleh dicoba tuh. "Es krim itu kan bahan dasarnya susu, kalo bisa setengah liter sehari". lanjut sang dokter. Sejak saat itu, es krim dan udang rebus, menjadi menu utamaku. Sampai suatu malam aku terbangun mendapati dasterku basah. Aku ngompol? Tapi tidak ada bau dan... Air ketuban! Ya, aku segera teringat ciri-ciri air ketuban yang pernah kubaca di sebuah buku panduan kehamilan. Malam itu tgl 30 september 1994, jam sebelas malam, suamiku mengantarku ke RS Mitra Keluarga Jatinegara. Sepanjang perjalanan, air ketubanku terus mengalir. Aku merasa baju hamilku menjadi lebih longgar. Oh...jangan-jangan bayiku saling mendesak dan menekan.
Dokter memutuskan operasi sesar setelah sholat subuh. Pertimbangan sesar, selain ketuban bocor, posisi bayi-bayiku ternyata malang melintang. Yang di bawah telentang dan yang lain posisi duduk di atasnya. Subhanallah...
Akhirnya, lahirlah si sulung kembarku dengan lancar. Keduanya perempuan dengan berat 2,3 kg dan 1,9 kg. Kembar ke-1 kami beri nama Alif Hasna Astrima dan kembar ke-2 Alif Nissa Astrima. Kemudian mereka lebih akrab dengan panggilan Hana dan Cica
Tidak ada komentar:
Posting Komentar